Cinta Bangsa, Cinta Warganya

Bismillah..

Assalamu’alaikum Wr Wb..

Akhir-akhir ini bangsa Indonesia mendapatkan ujian yang cukup berat, dengan adanya kejadian pembakaran masjid, toko dan rumah penduduk muslim di Tolikara, Papua. Kejadian ini tentu saja memicu banyak reaksi dari kalangan umat muslim Indonesia. Salah satu reaksi yang cukup keras terdengar dari salah satu organisasi yang berpusat di Jakarta, yang menyebut bahwa mereka siap berjihad ke Talikora, untuk membalas serangan tersebut kepada umat Nasrani. Mohon maaf, akan tetapi saya rasa tindakan itu sungguh tidak tepat. Saya membaca artikel yang sangat indah terkait hal tersebut, semoga bisa memberikan penjelasan yang lebih baik https://www.facebook.com/KumpulanFotoUlamaDanHabaib/posts/851736961583644:0

Semoga bangsa ini tidak saling terpecah belah karena perbedaan keyakinan, sehingga persatuan dan kesatuan NKRI tetap terjaga. Mendengar kata kebangsaan dan persatuan, saya teringat kalimat Allah dalam surat Al Hujurat ayat 13 yang berbunyi “waja alnaakum syu-‘uuba wa qobaila lita’arofu” yang berarti bahwa Allah menjadikan umat manusia itu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Apa makna dari mengenal disini yang digambarkan sebagai kalimat lita’arofu?

Lita’arofu adalah mengenal dan memahami apa yang Allah ta’ala berikan kepada anak bangsa untuk saling menghormati, bukan untuk saling mengintervensi. Apabila umat manusia memahami kalimat ini dengan baik, maka sesungguhnya tidak akan ada perang antar suku maupun bangsa. Kalimat Lita’arofu menurut maulana Habib Luthfi bin Hasyim bin Yahya, berdasar kepada kalimat inna akramakum indallahi atqakum yang memiliki arti “sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa”.

Dalam kalimat inna akramakum indallahi atqakum memiliki dua standart yang sangat tinggi disini, yaitu ditarik dari kata akrom dan atqo yang berarti paling mulia dan paling bertaqwa. Lalu, adakah kita bisa memenuhi standart tersebut dan bagaimana caranya? Jawabannya hanya satu, yaitu meneladani sifat Rosulullah SAW.

Kita sudah tidak hidup pada zaman Rosulullah, lalu bagaimana kita bisa meneladani sifat beliau? Kita bisa meneladasi sifat-sifat beliau dari pada Ulama wal Ambiya’. Carilah guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas, sehingga kita benar-benar mendapatkan ilmu yang benar, bukan malah mencari ilmu agama di google yang isinya sesat dan menyesatkan.

 

Berikut adalah video dari Habib Luthfi bin Ali bin Yahya.. Semoga habib Luthfi selalu diberikan kesehatan, umur panjang dan bisa menuntun kita semua kejalan yang Allah Ridhoi..

Mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya masih belajar dan mendalami ilmu agama. Apabila ada kesalahan penulisan dan bertentangan dari pandangan keislaman Anda. Semoga Allah mengampuni saya.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.